|
HJ. Nur’ani Nurohman - Pengusaha Batik |
|
|
|
|
Written by Moderator
|
|
Monday, 17 March 2008 |
HJ. Nur’ani Nurohman - Pengusaha Batik Asal Wedi Bayat Klaten Jateng. Menjalani Usaha dari Pintu Garasi Khalayak umumnya mengenal Solo, Pekalongan, Yogyakarta sebagai penghasil utama kain batik di Indonesia. Sedikit yang mengetahui bahwa Bayat Klaten, sebenarnya merupakan daerah penghasil kain batik. Bahkan, kain batik dengan desain khas karya perajin Bayat banyak membanjiri pasar batik di Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Surabaya, Denpasar, dan Jakarta. Selain itu, batik Lasem juga telah menembus pasar luar negeri, antara lain Malaysia, Singapura, Afrika, Amerika, dan Jepang.
Produksi batik Bayat meliputi batik tulis, cap, dan printing dengan berbagai ragam produk seperti Sarimbit, Sarung Selendang, jarik, kemeja, dan blus. Industri batik membuka peluang besar untuk penanaman modal dalam hal pengadaan bahan baku, pengembangan produksi, pelatihan dan ketrampilan, serta promosi dan pemasaran. |
|
Read more...
|
|
|
Badroni yuzirman Sukses dengan Busana Muslim manet |
|
|
|
|
Written by Jajat.S
|
|
Tuesday, 20 November 2007 |
Badroni yuzirman,
Sukses dengan Busana Muslim manet
Masa-masa sulit dalam bisnisnya tidak menyurutkan semangatnya. Setelah diusir dari pasar Tanah Abang, ia dan istrinya kembali membangun bisnis busana muslim dari sebuah garasi.
Kesabaran dan kegigihannya dalam berbisnis mungkin patut ditiru para pelaku bisnis lainnya. Bayangkan saja, usaha yang dijalankannya bersama istri tercinta mengalami kebangkrutan dan nyaris tutup. Namun bagi Badroni Yuzirman, semua yang ia alami merupakan cobaan yang harus ia terima dengan ikhlas. Setelah hengkang dari pasar Tanah Abang, ia pun memulai usahanya kembali dari sebuah garasi rumah. Roni, begitu ia disapa, mengenang memori masa-masa sulit akibat usahanya yang bangkrut, dimana ia nyaris tidak punya uang sama sekali. Sementara hutang-hutang menumpuk. Dalam kondisi seperti itu ia dan istrinya Eli, harus menerima perlakuan tidak menyenangkan dari PD Pasar Jaya yang memaksanya hengkang dari pasar Tanah Abang. Setelah keluar dari pasar Tanah Abang, Roni bersama istrinya kembali bangkit dengan berjualan di garasi rumahnya. Merk Manet yang menjadi ciri khas busana muslim produknya tetap dipertahankan. Kegemarannya bermain internet ia gunakan untuk memasarkan busana muslim merk Manet ke berbagai penjuru. “Maret sampai Mei 2004 saya pasarkan secara online,” ujarnya. Tanpa diduga usahanya itu berhasil. Roni kerap mendapatkan order dari pembeli dari seluruh Indonesia. Lambat laun usaha yang dijalankan dari garasi rumahnya itu mengalami peningkatan dan pada Juni 2004 ia pun mampu menyewa sebuah ruko dekat rumahnya.
|
|
Read more...
|
|
|