Skip to content
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color grey color

majalah bisnis, properti & wirausaha (majalah gratis)

Halaman Depan arrow Profil Pengusaha arrow Badroni yuzirman Sukses dengan Busana Muslim manet
Badroni yuzirman Sukses dengan Busana Muslim manet PDF Print E-mail
Written by Jajat.S   
Tuesday, 20 November 2007


B
adroni yuzirman,

Sukses dengan Busana Muslim manet

 
Masa-masa sulit dalam bisnisnya tidak menyurutkan semangatnya. Setelah diusir dari pasar Tanah Abang, ia dan istrinya kembali membangun bisnis busana muslim dari sebuah garasi.

Kesabaran dan kegigihannya dalam berbisnis mungkin patut ditiru para pelaku bisnis lainnya. Bayangkan saja, usaha yang dijalankannya bersama istri tercinta mengalami kebangkrutan dan nyaris tutup. Namun bagi Badroni Yuzirman, semua yang ia alami merupakan cobaan yang harus ia terima dengan ikhlas. Setelah hengkang dari pasar Tanah Abang, ia pun memulai usahanya kembali dari sebuah garasi rumah.
 
Roni, begitu ia disapa, mengenang memori masa-masa sulit akibat usahanya yang bangkrut, dimana ia nyaris tidak punya uang sama sekali. Sementara hutang-hutang menumpuk. Dalam kondisi seperti itu ia dan istrinya Eli, harus menerima perlakuan tidak menyenangkan dari PD Pasar Jaya yang memaksanya hengkang dari pasar Tanah Abang.
 
Setelah keluar dari pasar Tanah Abang, Roni bersama istrinya kembali bangkit dengan berjualan di garasi rumahnya. Merk Manet yang menjadi ciri khas busana muslim produknya tetap dipertahankan. Kegemarannya bermain internet ia gunakan untuk memasarkan busana muslim merk Manet ke berbagai penjuru. “Maret sampai Mei 2004 saya pasarkan secara online,” ujarnya. Tanpa diduga usahanya itu berhasil. Roni kerap mendapatkan order dari pembeli dari seluruh Indonesia. Lambat laun usaha yang dijalankan dari garasi rumahnya itu mengalami peningkatan dan pada Juni 2004 ia pun mampu menyewa sebuah ruko dekat rumahnya.
 
Untuk menambah semangatnya dalam berbisnis, Roni yang mengaku dekat dengan Tung Desem Waringin selalu meminta bantuannya untuk memanage manajemennya. “Waktu itu Tung Desem belum setenar sekarang,” kata Roni. Roni menambahkan, dari Tung Desem ia banyak mendapatkan pelajaran berharga mengenai berbisnis. Tidak cukup itu saja, ia juga rajin menghadiri berbagai seminar yang berhubungan dengan entrepreneur. “Tiga bulan harus kami jalani dengan berjualan di garasi dan mengandalkan internet sebagai marketing channelnya. Alhamdulillah, dengan izin Allah, berkat doa dari orang tua, orang-orang yang terlibat dengan kami, tidak lama setelah itu bisnis kami bangkit kembali,” tegasnya.
 
Berkat kegigihan dan keuletannya, kini Roni dan istrinya bisa bernapas lega dengan bisnisnya yang semakin berkembang. Nama Manet semakin dikenal sebagai merk busana muslim untuk kalangan perempuan. Bahkan mereka sudah menempati ruko berlantai empat yang dibelinya di kawasan Kebayoran Lama. “Pembeli kami dari seluruh Indonesia yang semuanya memesan dari internet,” ucapnya. Roni tetap mempertahankan strategi pemasarannya lewat internet yang mampu sampai ke seluruh pelosok.
 
 
Menurut Roni, Manet membidik kalangan ibu-ibu muda dan remaja dewasa sebagai segmennya. “90% pembeli kami berasal dari luar Jakarta dan dari Jakarta sendiri hanya sedikit,” cetusnya. Meski produknya tidak ada di toko atau Mal, namun produk Manet terjual mencapai ribuan.  

Pantang Menyerah,
Keberhasilannya di bisnis garment sebenarnya tidak pernah tersirat sebelumnya. Apalagi menjadi seorang pebisnis tulen. Roni pun bercerita soal awal mulanya terjun ke dunia yang belum pernah digelutinya ini. Menurut pria lulusan ekonomi Trisakti pada 1998, setelah lulus ia mencoba melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan. “Dari lamaran yang saya kirim itu paling satu-dua yang manggil, lalu tidak ada lagi panggilan. Jadi jalur bisnis satu-satunya pilihan buat saya,” kenang Roni.
 
 
Bosan menunggu pekerjaan yang tidak datang juga, ia pun memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis yang belum pernah digelutinya. Ia memulai kiprahnya dengan membuka Manet interior dengan produk seperti taplak meja, sarung bantal kursi, dan tutup perabotan. Sukses di interior, Roni merambah ke bisnis busana muslim dengan merk Manet.
 
 
Roni mengaku tidak salah pilih dengan keputusannya menjadi seorang usahawan. Bahkan ia pun tidak menyesali berbagai kejadian pahit yang dialaminya. “Yang ada di benak saya itu adalah freedom. Saya merasa enak kerja tidak diatur dan tidak terikat waktu,” jelasnya. Dalam menjalankan bisnisnya Roni mengaku tidak pernah mengenal kata menyerah.
 
 
Malah, berbagai pengalaman pahit yang membangkrutkannya beberapa tahun silam justru mengasah dirinya menjadi seorang entrepreneur sejati. “Kondisi tidak aman inilah yang membuat saya terbiasa dengan gejolak turun naik dalam bisnis. Saya harus fight dan jangan pernah berhenti berkarya,” papar Roni. Selain itu Roni bersama istrinya selalu mengikuti perkembangan mode dan kemauan pasar dari berbagai tempat. “Nah dari situlah lahir inovasi-inovasi baru untuk busana Manet,” tambahnya.  
 
 
Hasil dari kegigihan dan keuletannya tersebut, ia kini bisa menikmati buahnya. Produk busana muslim Manet kini semakin bertambah mulai dari blus, jilbab, sampai aksesoris. Pada 2006, Roni memperoleh penghargaan enterprise 50 versi majalah Swa. Jajat
   
 
 
       
     





 
< Prev



Menu Pengguna

Login

Yahoo Messenger


Pesan Singkat

Pesan Terakhir: 1 Jam, 9 Menit lalu

Gunakan smilies?
Joomla based sites toplist

Indonesia Joomla Topsite