Properti
Bisnis Properti yang Kembali Bangkit | Bisnis Properti yang Kembali Bangkit |
|
|
|
| Written by Jajat S | |
| Monday, 10 December 2007 | |
![]() Meskipun lahan di Jakarta semakin sempit, namun tidak menyurutkan para pengembang membangun perumahan di Jakarta. Dengan lahan yang terbatas, pengembang menawarkan konsep rumah yang nyaman. Keberanian pengembang dan animo konsumen menjadi bukti bisnis properti di Indonesia sudah bangkit kembali. Pada tahun 2006 lalu, pasar properti Indonesia mengalami penurunan penjualan yang disebabkan oleh faktor tingkat suku bunga KPR yang naik. Namun, sejak awal tahun 2007 pasar properti menunjukkan tanda-tanda kembali bergairah. Puncaknya, saat Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga pada Juni 2007 mencapai 8,5 persen memicu meningkatnya alokasi kredit properti, baik KPR maupun kredit konstruksi. Keadaan yang stabil itu membuat para pengembang nasional segera melanjutkan proyek-proyeknya, baik di Jakarta maupun di luar Jakarta. Mereka optimis bahwa dunia bisnis properti akan bangkit kembali. Dan, perkiraan itu tidak salah. Sampai saat ini para pengembang semakin getol melanjutkan pembangunannya yang sempat tertunda di tahun lalu. Langkah para pengembang besar itu tentunya diikuti oleh pengembang lainnya. Umumnya mereka justru membangun berbagai perumahan di Jakarta maupun luar Jakarta. Lokasi-lokasi proyek di luar Jakarta yang menurut para pengembang masih berpotensi dan cukup banyak diminati adalah kawasan Serpong, Bintaro, Cibubur, Bekasi Timur, Tambun, Ciledug, Depok, Bogor, Karawaci, Cinere, Ciputat, dan Cikarang. Lalu, bagaimana dengan Jakarta? Tentu saja sulit. Pasalnya, di Jakarta sendiri sampai saat ini sangat sulit mendapatkan lahan luas yang dapat dibangun perumahan. Kalaupun ada lahannya tidak lebih dari tiga sampai lima hektar. Meski lahan di Jakarta semakin sempit, nyatanya tidak mengurangi minat para pengembang membangun perumahan yang masih berada di dalam kota Jakarta. Lahan yang terbatas mereka sulap menjadi perumahan nyaman dengan berbagai tipe. Cengkareng Residence misalnya, perumahan yang berada di Cengkareng, Jakarta Barat, ini hanya berdiri diatas areal seluas tiga hektar dengan membangun 220 unit rumah. Lokasi yang berada di pinggiran Jakarta ini dibangun dengan konsep rumah dua lantai. “Karena lahan di Jakarta sudah jarang sehingga kami pakai gaya minimalis,” kata Arman, staf marketing Cengkareng Residence. Selain itu perumahan ini dibangun dengan konsep dua lantai sebagai alternatif terbatasnya lahan. Mungkin pengembang Cengkareng Residence masih beruntung mendapatkan lahan diatas satu hektar di Jakarta. Berbeda dengan pengembang perumahan Pines Residence di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan. Perumahan ini hanya dibangun sebanyak 15 unit diatas areal enam ribu meter persegi. “Selama ini kami memang selalu membangun diatas lahan yang tidak luas agar efektif dan penghuni merasa nyaman dan aman,” kilah Agus Untario, salah satu staf PT Tridelta Development. Meski keduanya menempati lahan yang terbatas, tapi, toh, perumahan itu laris manis. Cengkareng Residence yang baru rampung 80 persen sudah terjual sekitar 60 persen. Begitu juga dengan Pines Residence yang sudah terjual mencapai setengahnya. Animo masyarakat yang begitu antusias tersebut tentu menjadi barometer kebangkitan dunia properti di Indonesia. Meskipun setiap unit rumah harganya mencapai diatas 300 juta. Meskipun lahannya sempit namun konsep yang ditawarkan para pengembang ternyata cukup jitu menarik konsumen. Cengkareng Residence dan Pines Residence setidaknya dapat dijadikan tolak ukur bila konsumen sangat membutuhkan rumah yang layak dan nyaman. Tidak salah bila beberapa waktu lalu analis properti Panangian Simanungkalit optimis bila bisnis properti Indonesia akan kembali bangkit dari keterpurukan dan bahkan lebih baik dari tahun 2006. Pendapat Panangian ini berdasarkan dari pengamatan Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) yang menyatakan setidaknya ada tiga factor pemicu bangkitnya bisnis properti tahun 2007. Pertama, faktor stabilnya laju inflasi selama tahun 2007 pada level 5,5-6,0 persen. Kedua, tingkat suku bunga KPR sebesar 10-11 persen. Dan faktor ketiga adalah menguatnya kurs rupiah pada level Rp 8.000 – Rp 9.000 per dollar AS. Bahkan Panangian merasa yakin nilai kapitalisasi bisnis properti pada tahun 2007 diperkirakan mencapai Rp 66,99 triliun. Angka ini menurun 15,75 persen bila dibandingkan tahun 2006. Jajat |
| < Prev | Next > |
|---|