HJ. Nur’ani Nurohman - Pengusaha Batik Asal Wedi Bayat Klaten Jateng. Menjalani Usaha dari Pintu Garasi Khalayak umumnya mengenal Solo, Pekalongan, Yogyakarta sebagai penghasil utama kain batik di Indonesia. Sedikit yang mengetahui bahwa Bayat Klaten, sebenarnya merupakan daerah penghasil kain batik. Bahkan, kain batik dengan desain khas karya perajin Bayat banyak membanjiri pasar batik di Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Surabaya, Denpasar, dan Jakarta. Selain itu, batik Lasem juga telah menembus pasar luar negeri, antara lain Malaysia, Singapura, Afrika, Amerika, dan Jepang.
Produksi batik Bayat meliputi batik tulis, cap, dan printing dengan berbagai ragam produk seperti Sarimbit, Sarung Selendang, jarik, kemeja, dan blus. Industri batik membuka peluang besar untuk penanaman modal dalam hal pengadaan bahan baku, pengembangan produksi, pelatihan dan ketrampilan, serta promosi dan pemasaran.
Kegetiran hidup tak menyurutkan perjuangan Hj.
Nur’aini Nurohman (46) dalam menjalani kesehariannya. Dengan
berapi-api, wanita sederhana ini menuturkan kisah hidupnya yang diawali
sebagai tukang cuci baju, pemotong, kernet bus antarkota, dan akhirnya
menjadi pengusaha serta perajin batik Bayat Klaten
Semua ini karena kebaikan Tuhan, ujarnya mensyukuri perbaikan hidup
yang dialaminya. Meski bukan pengusaha batik nomor wahid di Kabupaten
Klaten, Jawa Tengah, perempuan peranakan Jawa Minang ini sangat
terkenal di dunia perbatikan, khususnya batik dengan motif kejawaan
Hingga tak heran, rekan-rekannya memintanya untuk menjadi ketua cluster
batik bayat, yang hingga kini belum diberi nama. Dalam waktu dekat,
cluster ini akan dinamai menjadi semacam asosiasi perajin/pengusaha
batik bayat Klaten.
Jenis batik bayat (Klaten) yang perkembangannya jauh tertinggal
dibanding batik solo dan yogya ini terus digeluti, meski masih
menggunakan peralatan tradisional. Nur’ani yang memimpin Batik Tulis
Tradisional Wedi Bayat di desa Jimbung Wedi Bayat Klaten ini
mengerahkan tidak kurang 50 perajin guna mendukung usahanya. Dengan
jumlah pekerja sebanyak itu, tak mengherankan jika Batik Bayat Klaten
mampu menghasilkan 1000 potong (sekitar 2.500 m) kain sejenis sutera
tiap bulan dan 900 potong (sekitar 2.250 m) kain batik jenis katun.
Setiap potong batik jenis sutera maupun batik, memiliki panjang standar
2.5 m dengan lebar 1.15 m. Harganya cukup bervariasi tergantung motif
Batik, model dan jenis bahan kain yang digunakan. Untuk kain jenis
sutera dibanderol dengan harga Rp.100 ribu hingga Rp.4,5 juta.
Sedangkan untuk kain jenis katun dibanderol dengan harga Rp.50 ribu
hingga Rp.500 ribu
Selain mengemban status single parent, Nur’aini terkenal aktif sebagai
ketua Tim Penggerak PKK di Daerah setempat. Bahkan, akhir-akhir ini ia
disibukkan dengan mengisi seminar maupun pemaparan ke berbagai instansi
mengenai seluk-beluk batik Jawa Khususnya dari Bayat
Ia juga tengah merintis pengaderan perajin batik ke sekolah-sekolah
secara gratis. Kalau tidak kami sendiri yang mengader, siapa lagi?
Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, ujarnya.
Nur’aini mengaku pernah melontarkan gagasannya kepada Bupati Klaten
saat itu untuk menyisipkan cara membatik ke dalam pelajaran muatan
lokal. Sayangnya, ide ini tak ditanggapi dan dianggap tidak bisa
berhasil.
Akhirnya, ia langsung turun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan
gagasannya itu. Kini, ia masih menunggu tanggapan dari sekolah-sekolah.
Jika masalah tempat, saya bisa meminjam balai desa, tak perlu keluar
uang, ujarnya.
Meski sangat sibuk, produktivitasnya tak berubah. Berkat keuletan dan
kegigihannya, usahanya berkembang pesat. Setiap bulan Nur’aini dan
rekan-rekan pekerja di tempatnya menghasilkan rata-rata 900 potong
batik tulis. Batik-batik bermotif akulturasi budaya Jawa , Arab dan
juga Cina ini dikirim ke berbagai daerah, seperti Serang (Banten),
Medan (Sumut), dan Surabaya (Jatim).
Nur’aini menjelaskan, usaha batik yang digeluti sejak tahun 1990-an ini
merupakan limpahan dari orangtua. Namun, ia tidak semata-mata menerima
begitu saja. Pada tahun 1980, lulusan IKIP YKP Klaten Jawa Tengah ini
mendapatkan masalah sehingga dikucilkan dari keluarga yang saat itu
terpandang di wilayahnya. Ditolak dari keluarga yang telah mengasuhnya
21 tahun itu mau tak mau harus diterimanya. Ia pun pindah ke Kabupaten
Gunung Kidul Prop DIY. Di tempat ini ia menyingsingkan lengan baju dan
bekerja sebagai pencuci pakaian. Tergiur penghasilan yang lebih tinggi,
ia pindah sebagai buruh pabrik konveksi didaerah itu.
Karena kurang cekatan, ia hanya betah kerja dalam hitungan minggu Ia
hengkang dan bahkan berpindah sebagai tukang kebersihan di garasi
sebuah bis tryek Solo Wonosari.dan tinggal disitu. Singkat cerita, Dari
Sinilah dari pintu garasi sebuah bis akap dikota itu, Ia memulai usaha
membatik,sedikit demi sedikit usahanya mulai menampakan hasil,akhirnya
rangtuanya memintanya kembali ke Wedi Bayat. Itupun masih dengan
berbagai tekanan.
Perlakuan ini ia terima dengan lapang dada. Sedikit demi sedikit ia
mempelajari cara /seni pembuatan batik yang sesungguhnya. Mulai dari
desain, memegang canting, melapisi kain dengan malam, hingga memberi
pewarnaan diperhatikannya dengan saksama.
Hingga suatu hari, tahun 1990, orang tuanya memutuskan hijrah dengan
adik-adiknya di Jakarta. Usaha batik tidak ada yang meneruskan. Dari
titik inilah Nur’aini dipercaya untuk melanjutkan usaha orang
tuanya.batik warisan turun-temurun ini.
Kesempatan ini digunakan Nur’aini untuk
mengubah sistem dan aturan main bagi pekerjanya. Ia memberi kebebasan
kepada perajin untuk mendesain motif sesuai dengan keinginanya.,.Ini
salah satu sistem baru yang saya terapkan, ujarnya yang pernah
bercita-cita sebagai Guru.
Suasana kerja juga bukan lagi atasan dan
bawahan. Ia menganggap perajin adalah rekan usaha yang sama-sama
membutuhkan dan menguntungkan. Hingga kini, ibu dari Gunawan (20) dan
Bambang Irawan (15) ini masih tetap eksis di dunia perbatikan. Perlahan
namun pasti, batik Bayat mulai menggeliat dan dilirik kembali oleh para
pencinta batik,baik dari dalam maupun dari mancanegara.
Batik bayat khususnya milik Nur’Aini siap melayani pesanan design dan
produksi batik untuk seragam kantor dan instasi baik PEMDA maupun
SWASTA dengan harga terjangkau dan kualitas terjamin. Batik Bayat juga
terus melakukan inovasi dalam design dan motif batik yang
diproduksinya, termasuk mengembangkan motif bergaya Eropa. Nur’aini
mengaku sudah memiliki dua motif khas bergaya Paris dan Barcelona yang
sebentar lagi akan diluncurkan.
Untuk mengembangkan usaha produksi batik ini, Nur’aini membuka peluang
kerjasama bagi para investor yang tertarik, batik jawa khususnya bayat
untuk memberikan suntikan dana sebesar Rp. 1 milliar untuk menangani
sektor pengadaan bahan baku dan pengembangan pasar.(Muchlas)
|