Skip to content
Narrow screen resolution Wide screen resolution Auto adjust screen size Increase font size Decrease font size Default font size default color grey color

majalah bisnis, properti & wirausaha (majalah gratis)

Halaman Depan arrow Profil Pengusaha arrow HJ. Nur’ani Nurohman - Pengusaha Batik
HJ. Nur’ani Nurohman - Pengusaha Batik PDF Print E-mail
Written by Moderator   
Monday, 17 March 2008

HJ. Nur’ani Nurohman - Pengusaha Batik Asal Wedi Bayat Klaten Jateng.
Menjalani Usaha dari Pintu Garasi
 

Khalayak umumnya mengenal Solo, Pekalongan, Yogyakarta sebagai penghasil utama kain batik di Indonesia. Sedikit yang mengetahui bahwa Bayat Klaten, sebenarnya merupakan daerah penghasil kain batik. Bahkan, kain batik dengan desain khas karya perajin Bayat  banyak membanjiri pasar batik di Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Surabaya, Denpasar, dan Jakarta. Selain itu, batik Lasem juga telah menembus pasar luar negeri, antara lain Malaysia, Singapura, Afrika, Amerika, dan Jepang.

Produksi batik Bayat meliputi batik tulis, cap, dan printing dengan berbagai ragam produk seperti Sarimbit, Sarung Selendang, jarik, kemeja, dan blus. Industri batik membuka peluang besar untuk penanaman modal dalam hal pengadaan bahan baku, pengembangan produksi, pelatihan dan ketrampilan, serta promosi dan pemasaran.

 

Kegetiran hidup tak menyurutkan perjuangan Hj. Nur’aini Nurohman (46) dalam menjalani kesehariannya. Dengan berapi-api, wanita sederhana ini menuturkan kisah hidupnya yang diawali sebagai tukang cuci baju, pemotong, kernet bus antarkota, dan akhirnya menjadi pengusaha serta perajin batik Bayat Klaten

Semua ini karena kebaikan Tuhan, ujarnya mensyukuri perbaikan hidup yang dialaminya. Meski bukan pengusaha batik nomor wahid di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, perempuan peranakan Jawa Minang ini sangat terkenal di dunia perbatikan, khususnya batik dengan motif kejawaan

Hingga tak heran, rekan-rekannya memintanya untuk menjadi ketua cluster batik bayat, yang hingga kini belum diberi nama. Dalam waktu dekat, cluster ini akan dinamai menjadi semacam asosiasi perajin/pengusaha batik bayat Klaten.

Jenis batik bayat (Klaten) yang perkembangannya jauh tertinggal dibanding batik solo dan yogya ini terus digeluti, meski masih menggunakan peralatan tradisional. Nur’ani yang memimpin Batik Tulis Tradisional Wedi  Bayat di desa Jimbung Wedi Bayat Klaten ini mengerahkan tidak kurang 50 perajin guna mendukung usahanya. Dengan jumlah pekerja sebanyak itu, tak mengherankan jika Batik Bayat Klaten mampu menghasilkan 1000 potong (sekitar 2.500 m) kain sejenis sutera tiap bulan dan 900 potong (sekitar 2.250 m) kain batik jenis katun. Setiap potong batik jenis sutera maupun batik, memiliki panjang standar 2.5 m dengan lebar 1.15 m. Harganya cukup bervariasi tergantung motif Batik, model dan jenis bahan kain yang digunakan. Untuk kain jenis sutera dibanderol dengan harga Rp.100 ribu hingga Rp.4,5 juta. Sedangkan untuk kain jenis katun dibanderol dengan harga Rp.50 ribu hingga Rp.500 ribu

Selain mengemban status single parent, Nur’aini terkenal aktif sebagai ketua Tim Penggerak PKK di  Daerah setempat. Bahkan, akhir-akhir ini ia disibukkan dengan mengisi seminar maupun pemaparan ke berbagai instansi mengenai seluk-beluk batik Jawa Khususnya dari Bayat
Ia juga tengah merintis pengaderan perajin batik ke sekolah-sekolah secara gratis. Kalau tidak kami sendiri yang mengader, siapa lagi? Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, ujarnya.

Nur’aini mengaku pernah melontarkan gagasannya kepada Bupati Klaten saat itu untuk menyisipkan cara membatik ke dalam pelajaran muatan lokal. Sayangnya, ide ini tak ditanggapi dan dianggap tidak bisa berhasil.

Akhirnya, ia langsung turun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan gagasannya itu. Kini, ia masih menunggu tanggapan dari sekolah-sekolah. Jika masalah tempat, saya bisa meminjam balai desa, tak perlu keluar uang, ujarnya.

Meski sangat sibuk, produktivitasnya tak berubah. Berkat keuletan dan kegigihannya, usahanya berkembang pesat. Setiap bulan Nur’aini dan rekan-rekan pekerja di tempatnya menghasilkan rata-rata 900 potong batik tulis. Batik-batik bermotif akulturasi budaya Jawa , Arab dan juga Cina ini dikirim ke berbagai daerah, seperti Serang (Banten), Medan (Sumut), dan Surabaya (Jatim).

Nur’aini menjelaskan, usaha batik yang digeluti sejak tahun 1990-an ini merupakan limpahan dari orangtua. Namun, ia tidak semata-mata menerima begitu saja. Pada tahun 1980, lulusan IKIP YKP  Klaten Jawa Tengah ini mendapatkan masalah sehingga dikucilkan dari keluarga yang saat itu terpandang di wilayahnya. Ditolak dari keluarga yang telah mengasuhnya 21 tahun itu mau tak mau harus diterimanya. Ia pun pindah ke Kabupaten Gunung Kidul Prop DIY. Di tempat ini ia menyingsingkan lengan baju dan bekerja sebagai pencuci pakaian. Tergiur penghasilan yang lebih tinggi, ia pindah sebagai buruh pabrik konveksi didaerah itu.
Karena kurang cekatan, ia hanya betah kerja dalam hitungan minggu Ia hengkang dan bahkan berpindah sebagai tukang kebersihan di garasi sebuah bis tryek Solo Wonosari.dan tinggal disitu. Singkat cerita, Dari Sinilah dari pintu garasi sebuah bis akap dikota itu, Ia memulai usaha membatik,sedikit demi sedikit usahanya mulai menampakan hasil,akhirnya rangtuanya memintanya kembali ke Wedi Bayat. Itupun masih dengan berbagai tekanan.

Perlakuan ini ia terima dengan lapang dada. Sedikit demi sedikit ia mempelajari cara /seni pembuatan batik yang sesungguhnya. Mulai dari desain, memegang canting, melapisi kain dengan malam, hingga memberi pewarnaan diperhatikannya dengan saksama.

Hingga suatu hari, tahun 1990, orang tuanya memutuskan hijrah dengan adik-adiknya di Jakarta. Usaha batik tidak ada yang meneruskan. Dari titik inilah Nur’aini dipercaya untuk melanjutkan usaha orang tuanya.batik warisan turun-temurun ini.

Kesempatan ini digunakan Nur’aini untuk mengubah sistem dan aturan main bagi pekerjanya. Ia memberi kebebasan kepada perajin untuk mendesain motif sesuai dengan keinginanya.,.Ini salah satu sistem baru yang saya terapkan, ujarnya yang pernah bercita-cita sebagai Guru.

Suasana kerja juga bukan lagi atasan dan bawahan. Ia menganggap perajin adalah rekan usaha yang sama-sama membutuhkan dan menguntungkan. Hingga kini, ibu dari Gunawan (20) dan Bambang Irawan (15) ini masih tetap eksis di dunia perbatikan. Perlahan namun pasti, batik Bayat mulai menggeliat dan dilirik kembali oleh para pencinta batik,baik dari dalam maupun dari mancanegara.
 
Batik bayat khususnya milik Nur’Aini siap melayani pesanan design dan produksi batik untuk seragam kantor dan instasi baik PEMDA maupun SWASTA dengan harga terjangkau dan kualitas terjamin. Batik Bayat juga terus melakukan inovasi dalam design dan motif batik yang diproduksinya, termasuk mengembangkan motif bergaya Eropa. Nur’aini mengaku sudah memiliki dua motif khas bergaya Paris dan Barcelona yang sebentar lagi akan diluncurkan.

Untuk mengembangkan usaha produksi batik ini, Nur’aini membuka peluang kerjasama bagi para investor yang tertarik, batik jawa khususnya bayat untuk memberikan suntikan dana sebesar Rp. 1 milliar untuk menangani sektor pengadaan bahan baku dan pengembangan pasar.(Muchlas)
 
 



 

 
Next >



Menu Pengguna

Login

Yahoo Messenger


Pesan Singkat

Pesan Terakhir: 1 Jam, 11 Menit lalu

Gunakan smilies?
Joomla based sites toplist

Indonesia Joomla Topsite